Bandung, Eunofa – Her, sebuah film yang dirilis pada tahun 2013, karya sutradara Spike Jonze, menjadi semakin relevan di era Artificial Intelligent. Semakin berkembangnya teknologi AI, cerita tentang seseorang yang jatuh cinta dengan karakter AI tidak jarang kita dengar. Akan tetapi, dibalik fenomena tersebut, ada naluri manusia yang sangat mendasar dan sulit dipisahkan dari kehidupan manusia.
her is a beautiful film. Mungkin kata beautiful tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa berkesannya film ini bagi saya. Film Ini adalah surat cinta untuk hubungan antar manusia, sebuah pemercik renungan terhadap emosi dan hasrat manusia. Film ini membawakan cerita tentang Theodore (joaquin phoenix), seorang pria yang sedang menghadapi kesepian pasca perceraiannya. Di masa kesepiannya, ia memupuk kisah romansa dengan Samantha (scarlett johanson), sebuah operating system. Kisah mereka dihadang fakta bahwa mereka hidup di dunia yang jauh berbeda.
Saya akan sedikit membahas era pandemi 2020 yang bagi saya berkaitan erat dengan materi film ini. Saya menonton film ini ketika seluruh manusia dunia sedang kesepian, ketika interaksi dan koneksi antar manusia dipaksa untuk dibatasi. tahun 2020, dimana setiap orang merindu akan human interaction dan sentuhan jari dari orang-orang yang tersayang. Pada awalnya saya memandang fenomena Social distancing di era COVID-19 2020 adalah fenomena yang menenangkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa masa pandemi adalah masa yang mengerikan bagi banyak orang, begitu juga dengan saya. Namun, di sisi lain, saya, sebagai seorang yang bisa dibilang introvert, yang lelah jika harus berinteraksi dengan banyak manusia, menganggap era pandemi sebagai era yang tidak begitu buruk dalam aspek kehidupan sosial.
Semakin berlalunya waktu di masa-masa social distancing yang tidak kunjung berakhir, ada rasa kehampaan, ada rasa kekurangan, dan kerinduan yang saya rasakan. Pada awalnya saya tidak begitu paham akan apa yang saya rindukan pada saat itu. Mungkin sebenarnya dalam alam bawah sadar saya, saya tahu apa yang saya rindukan, tetapi otak saya tidak mau mengakuinya. Sampai pada saatnya saya menonton film ini Her Rekomendasi dari seorang influencer yang dulu sering saya tonton kontennya. Melalui film ini saya menyadari satu hal yang cukup obvious. Saya merindukan interaksi manusia.
Theodore twombly adalah cerminan dari umat manusia yang rapuh dan kesepian. He yearns for someone, or something to see him, to know that he existed. In some ways, kita pun begitu. Pada dasarnya, manusia menginginkan saksi hidupnya masing-masing. Manusia membutuhkan saksi bahwa mereka ada, hidup, dan berdampak bagi orang-orang di sekitarnya. Setelah kebutuhan fisiologis (makan, minum, tempat tinggal) dan keamanan (perlindungan dari bahaya, stabilitas hidup) terpenuhi, manusia mulai membutuhkan rasa cinta dan kebersamaan (love and belonging).
menjadi saksi bukan hanya tentang melihat, tapi tentang “being there”, hadir secara eksistensial dalam momen yang bermakna. Saksi hidup mengalami peristiwa secara langsung dan menjadi bagian dari kebenaran itu sendiri. Lalu, apakah Samantha tidak bisa menjadi saksi hidup Theodore karena ia tidak benar-benar hadir bersama Theodore? Jika memang Samantha tidak bisa menjadi saksi hidup, mengapa Theodore tidak merasa demikian?
Kedua pertanyaan tersebut sangat menarik. Saya suka bagaimana Spike jonze membawakan tema hasrat manusia melalui kisah cinta manusia dengan AI. It’s incredible that this film from 2013 could predict how AI and technology would advance and make an impact in society. Untuk menjawab dua pertanyaan tadi, kita bisa menelaah keadaan teknologi dan perannya di masyarakat masa kini.
Di era digital ini, kebutuhan akan saksi hidup semakin kompleks. Sosial media memberikan ilusi interaksi sosial yang nyata. Namun, interaksi sosial di dunia nyata dan sosial media tidak bisa disamakan. Sosial media sering kali berputar pada angka, seolah-olah kualitas interaksi dapat diukur dengan satuan angka. Padahal, interaksi manusia lebih kompleks dari itu. Tidak jarang interaksi manusia memiliki nuance yang tidak bisa dibaca lewat media sosial. Interaksi virtual di media sosial ini terus berkembang menjadi media yang memungkinkan interaksi dengan AI. Theodore terjebak dalam pemikiran keliru tersebut, bahwa interaksi virtual dapat disamakan dengan interaksi di dunia nyata. Maka, ia berpikiran bahwa Samantha lah yang dapat menjadi saksi hidupnya.
Akan tetapi, apakah dengan tidak sebandingnya interaksi virtual dengan interaksi dunia nyata membuat Samantha tidak valid sebagai saksi hidup? Apakah hubungan antara Theodore dan Samantha bukanlah hubungan yang nyata? Bahkan setelah menonton film ini 3 kali pun, saya belum bisa menetapkan jawaban saya. Selalu ada perdebatan yang tidak ada ujungnya. Bagi saya, cerita ini bukan hanya soal apakah hubungan dengan AI adalah hubungan yang nyata, tetapi, cerita ini mengintip hasrat terdalam umat manusia, yaitu untuk dilihat, didengar, dan dicintai.

Materi human interaction dan hasrat dasar manusia untuk dicintai dikemas oleh setiap aspek mise en scene yang koheren dan saling melengkapi. Saya tidak akan lelah untuk mengatakan bahwa film ini adalah film yang indah dari segi manapun. Cinematography oleh Hoyte Van Hoytema berhasil menangkap baik rasa kesepian maupun kasmaran yang dirasakan Theodore. Tidak jarang Hoyte Van Hoytema menggunakan shot wide untuk memberi kesan kesepian diantara dunia yang luas dan terus sibuk berkembang. Aspek lain seperti pencahayaan, warna, setting, kostum, dan karakter, bekerjasama membangun dunia near future dalam film her terasa believable namun tetap membawa kesan utopis.
Di luar aspek mise en scene, sound design dan scoring karya kolaborasi band Arcade Fire dengan Owen Pallett pun berperan kuat dalam membangun suasana yang melankolis dalam dunia yang futuristik. Synthesizer, electronic keyboard, dan piano akustik sangat dimanfaatkan untuk membawa penontonnya kedalam romansa masa depan yang hopeful namun liris. Sebagai seorang sound designer dan music composer, Scoring film ini menjadi salah satu scoring yang paling berpengaruh dalam berbagai scoring project yang saya garap. Tidak jarang saya secara sadar atau tidak sadar menjadikan scoring film ini sebagai inspirasi.
Scoring yang bagi saya paling menarik adalah “song on the beach” dan “photograph”. Kedua lagu ini menjadi representasi fase hubungan Theodore dan Samantha. Hal tersebut direpresentasikan dengan pembawaan dan komposisi dari tiap lagu. Dengan motif nada yang sama, “song on the beach” merepresentasikan awal hubungan yang tenang, mengalir, dan intim. Sedangkan “photograph” merepresentasikan hubungan yang lebih dewasa dimana mereka saling menerima baik dan buruk pasangannya.
This film is wonderful. Dengan rata-rata rating letterboxd 4 dari 5 bintang, tampaknya saya tidak sendirian. Jika saya tulis semua hal yang membuat film ini berkesan bagi saya, tulisan ini mungkin tidak ada habisnya. So, the point is, this film taught my 2020 self that no matter who you are, your emotional desire as a human being is to be seen, to be heard, and to be loved.

Penulis : Victoryano Vanza